Minggu, 21 September 2014

Pendidikan Dalam Berbagai Latar Peristiwa

Pendidikan Dalam Berbagai Latar Peristiwa
         Darsono (2008:51) dalam Asriani (2011) mengatakan bahwa Pendidikan merupakan kebutuhan dasar manusia guna memenuhi kebutuhan rohani dan daya nalarnya yang setara dengan kebutuhan-kebutuhan pokok lainnya guna memenuhi kebutuhan fisik dan mental sosialnya. Kebutuhan rohani dan kebutuhan fisik merupakan kebutuhan dasar manusia yang harus terpenuhi, sehingga sulit dan mahalnya harga pendidikan harus dipenuhi oleh Negara dalam mencukupi kebutuhan dasar warganegaranya. Diperkuat dengan pasal 31 Ayat 1 dan 2. Ayat (1) berbunyi “Tiap-tiap warga negara berhak mendapatkan pengajaran“ dan Ayat (2) “pemerintah mengusahakan dan menyelenggarakan suatu sistem pengajaran nasional yang diatur dalam undang-undang” Oleh karena itu, bila sekarang ini masih ada masyarakat yang tidak dapat melanjutkan pendidikannya terutama wajib belajar sembilan tahun, seharusnya negara selaku pemegang otoritas memfasilitasi kemudahan warganegaranya untuk memperoleh pendidikan.
Pendidikan menjadi kunci utama keberhasilan suatu bangsa, untuk menghantarkan kesejahteraan dan kemakmuran masyarakatnya (Dario: 2013). Bangsa yang baik adalah bangsa yang memperhatikan serta membangun sistem pendidikan yang baik pula. Jika suatu Negara belum mampu mengembangkan sistem pendidikan yang baik maka Negara tersebut belum mampu mencapai kesejahteraan yang terjadi pada Negara cerdas, makmur serta sejahtera, seperti; Jepang, Korea Selatan, Inggris, Jerman, Amerika Serikat, Kanada, Australia dan sebagainya. Menurut Ballantine dalam kibtiyah (2013), menyatakan beberapa fungsi pendidikan dalam masyarakat, yaitu; fungsi sosialisasi, seleksi, latihan dan alokasi, inovasi dan perubahan sosial serta fungsi pengembangan pribadi dan sosial.
           Pendidikan sangatlah penting demi meningkatkan kualitas hidup masyarakat. Masyarakat yang hidup dipedalaman tentunya berbeda kualitas pendidikannya jika dibandingkan dengan masyarakat yang hidup diperkotaan yang sarat dengan sarana dan prasarana pendidikan yang memadai. Masyarakat pedalaman bisa juga disebut masyarakat tradisional karena cenderung hidup jauh dari pusat kota dan sering kali mengalami kendala, apalagi pada bidang pendidikan seperti sarana dan prasarana yang minim serta terbatasnya tenaga pendidik karena susahnya transportasi untuk menjangkau lokasi. Pada beberapa daerah, minat bersekolah sangatlah kurang karena dinilai tidak menghasilkan uang. Tidak mengherankan, pada masyarakat tradisional yang lebih mengedepankan adat serta budaya leluhur seperti yang terjadi pada masyarakat pedalaman, anak usia sekolah lebih diajarkan untuk berburu atau membantu orang tua diladang. Kondisi seperti ini sangatlah menghawatirkan dan harus menjadi perhatian serius sehingga bisa mendapatkan solusi dalam pemecahan masalah diatas. Untuk memahami serta menindak lanjuti permasalahan pendidikan dalam berbagai latar peristiwa, kita haruslah memahami karakteristik serta perbedaan pendidikan masa lalu yang telah dilakukan oleh generasi sebelumnya serta yang kini sedang berlangsung. Maka, untuk lebih jelas kita haruslah membedakan pendidikan dalam berbagai tipe masyarakat, seperti pada masyarakat tradisional, modern dan era global sebagai berikut.

a)      Pendidikan Dalam Masyarakat Tradisional
Masyarakat tradisional sering diartikan sebagai masyarakat yang kehidupannya masih banyak dikuasai oleh adat istiadat lama. Didalam kehidupan sehari-harinya, masyarakat tradisional sering melakukan cara-cara atau kebiasaan-kebiasaan lama yang masih diwarisi dari nenek moyangnya sehingga kehidupan mereka belum terlalu dipengaruhi oleh perubahan-perubahan yang berasal dari luar lingkungan sosialnya.
Di Indonesia, masyarakat pada zaman dahulu atau masyarakat yang tinggal didaerah terpencil pada saat ini juga sering disebut masyarakat tradisional karena pada zaman itu mereka masih memegang teguh adat istiadat leluhur. Selain itu, masyarakat tradisional biasanya berada di pedalaman sehingga kurang mengalami perubahan atau pengaruh dari kehidupan kota. Pengetahuan yang mereka miliki kurang terspesialisasi dan sedikit keterampilan sehingga membuat anak-anak memperoleh warisan budaya dengan mengamati dan meniru orang dewasa dalam berbagai kegiatan seperti upacara, berburu, pertanian dan panen. Kebudayaan masyarakat tradisional merupakan hasil adaptasi terhadap lingkungan alam dan sosial sekitarnya tanpa menerima pengaruh luar. Jadi, kebudayaan masyarakat tradisional tidak mengalami perubahan mendasar. Karena peranan adat-istiadat sangat kuat menguasai kehidupan mereka.  
Undang-undang no 20 tahun 2003 tentang pendidikan Nasional pasal 5 ayat 1 dan 3 yang isinya ayat (1) “setiap warga negara mempunyai hak yang sama untuk memperoleh pendididkan yang bermutu”. Ayat (3) “warga negara daerah terpencil atau terbelakang serta masyarakat adat yang terpencil berhak memperoleh pendidikan layanan khusus”. Pemerintah wajib memenuhi hak tersebut seperti yang dicantumkan dalam pasal 11 ayat 1 yaitu pemerintah dan pemerintah daerah wajib memberikan layanan dan kemudahan, serta menjamin terselenggaranya pendidikan yang bermutu bagi setiap warga negaranya. Jadi, walaupun di Indonesia masih terdapat masyarakat pedalaman yang sulit untuk dijangkau tetapi pemerintah mempunyai kewajiban untuk tetap memberikan pelayanan pendidikan yang sama seperti masyarakat kota terhadap masyarakat pedalaman tanpa pengecualian.
Sejarah pendidikan masyarakat tradisional di Indonesia dimulai pada masa kerajaan. Pada umumnya, pendidikan diselenggarakan untuk mengajar anak-anak keluarga bangsawan, agar mereka siap meneruskan tugas dan tanggung jawab sebagai penerus tahta kerajaan. Pendidikan hanya bersifat terbatas dan elitis, itu berarti pendidikan diperuntukkan untuk kalangan kerajaan serta bangsawan. Sedangkan, pada zaman kolonial belanda, banyak hal yang menjadi penyebab ketertinggalan bidang pendidikan. Bangsa ini hanya dimanfaatkan sumber daya alamnya yang melimpah, sedangkan dalam sumber daya manusianya dibodohkan dengan berbagai cara, sehingga bangsa ini tidak mengalami masa perkembangan yang menakjubkan pada bidang pengetahuan, pendidikan maupun teknologi. Pendidikan hanya terbatas untuk orang-orang yang memiliki golongan ekonomi atas, terutama pegawai pemerintahan Belanda, kaum bangsawan (priyayi) dan diutamakan dari kaum laki-laki. Namun pada zaman Raden Ajeng Kartini muncul, ada dobrakan adat tradisi yang kuno. Ia berkeinginan bahwa pendidikan harus diberikan kepada setiap orang tanpa memandang jenis kelamin, suku bangsa, agama, maupun status sosial ekonomi.
Ada beberapa ciri utama pada pendidikan tradisional, yaitu; anak-anak biasanya dikirim ke sekolah di dalam geografis tertentu kemudian mereka dimasukkan ke dalam kelas yang kemudian dibedakan berdasarkan umur. Prinsip sekolah yang otoritarian menyebabkan anak harus menyesuaikan diri dengan tolak ukur perilaku yang ada. Guru memikul tanggung jawab pengajaran. Pembelajaran berpegang pada kurikulum yang sudah ditetapkan. Bahan ajar yang paling umum tertera dalam kurikulum adalah buku-buku teks. Di dalam kelas, guru menjadi satu-satunya pelaku pendidikan. Guru berbicara dan murid hanya menyimak tanpa ikut berperan aktif. Tatanan bangku berurut dan masih diberlakukannya hukuman fisik bagi murid yang tidak taat (kibtiyah: 2013).

b)     Pendidikan Dalam Masyarakat Modern
              Masyarakat modern adalah masyarakat yang menempatkan mesin dan teknologi pada posisi yang sangat penting dalam kehidupannya sehingga mempengaruhi ritme kehidupan dan norma-norma (kibtiyah: 2013). Masyarakat modern merupakan masyarakat yang sebagian besar warganya mempunyai orientasi nilai budaya yang terarah ke kehidupan dalam peradaban dunia masa kini. Masyarakat modern relatif bebas dari kekuasaan adat-istiadat lama. Karena mengalami perubahan dalam perkembangan zaman dewasa ini. Berlawanan dengan masyarakat tradisional, perubahan-perubahan itu terjadi sebagai akibat masuknya pengaruh kebudayaan dari luar yang membawa kemajuan terutama dalam bidang ilmu pengetahuan dan teknologi. Menurut Parson dalam Pambudi (2011), masyarakat modern bisa dilihat dari ciri-ciri berikut ini; masyarakat modern cenderung bersikap netral bahkan menuju sikap tidak memperhatikan atau tidak peduli dan juga lebih mementingkan diri sendiri. Masyarakat modern pula suka mengejar prestasi, serta cenderung berterus terang dalam mengungkapkan segala sesuatu.
Dalam mencapai kemajuan itu masyarakat modern berusaha agar mereka mempunyai pendidikan yang cukup tinggi dan berusaha agar mereka selalu mengikuti perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Kemajuan di bidang ilmu pengetahuan dan teknologi seimbang dengan kemajuan di bidang lainnya seperti ekonomi, politik, hukum, dan sebagainya. Bagi negara-negara sedang berkembang seperti halnya Indonesia. Pada umumnya masyarakat modern ini disebut juga masyarakat perkotaan atau masyarakat kota. Pengertian kota secara sosiologi terletak pada sifat dan ciri kehidupannya dan bukan ditentukan oleh menetapnya sejumlah penduduk di suatu wilayah perkotaan. Dari pengertian di atas, dapat diartikan bahwa tidak semua warga masyarakat kota dapat disebut masyarakat modern, sebab banyak orang kota yang tidak mempunyai orientasi nilai budaya yang terarah ke kehidupan peradaban dunia masa kini, misalnya gelandangan atau orang yang tidak jelas pekerjaan dan tempat tinggal.
Dalam masyarakat modern, pendidikan memegang peranan sangat penting dalam hal meningkatkan kecerdasan dan keterampilan. Pendidikan pada masyarakat modern umumnya diarahkan untuk mempersiapkan generasi yang mampu menghadapi tantangan. Pada zaman ini, teknologi informasi sudah mulai memegang peran penting untuk dikembangkan dan dikuasai. Dengan pengetahuan yang cukup, masyarakat akan mempunyai pandangan yang cukup luas untuk mampu mengantisipasi kehidupan masa mendatang dan melakukan perbaikan kehidupan dengan memperkenalkan norma sosial yang baru, yang dapat menjawab tantangan masa mendatang. Jadi pengetahuanlah yang menjadi modal utama bagi masyarakat modern untuk tetap bertahan dalam situasi dan kondisi peradaban modern.
Dalam rangka memenuhi kebutuhan mereka untuk memperoleh pengetahuan, mereka menyediakan fasilitas pendidikan formal mulai dari tingkat yang rendah hingga yang tinggi disamping pendidikan keterampilan khusus lainnya. Kelangsungan pendidikan ini diatur oleh pranata sosial baik pendidikan yang diselenggarakan pemerintah maupun oleh swasta. Karena peranan pendidikan ini sangat vital dalam menentukan kehidupan masa mendatang, maka penyelenggaraannya sangat terpelihara dan mendapat dukungan masyarakat. Warga masyarakat modern umumnya menikmati pendidikan sekolah mulai dari tingkat dasar, menengah maupun tinggi. Peranan pendidikan keluarga tetap terpelihara dengan baik khususnya dalam membentuk kepribadian seseorang sedangkan pengembangan pengetahuan dan keterampilannya, peranan pendidikan sekolahlah yang makin berperan.
Pendidikan pada masyarakat modern ini bertolak belakang dengan pendidikan tradisional. Pada pendidikan modern, guru bertindak sebagai fasilitator dan peserta didik mengambil dalam proses pembelajaran sehingga sehingga peserta didik dituntun untuk lebih aktif di kelas. Proses pembelajaran tidak hanya menggunakan buku teks, melainkan memanfaatkan media pembelajaran yang sekarang sudah berkembang pesat. Proses pembelajaran pun tidak terbatas di kelas saja melainkan bisa dilakukan di luar kelas sesuai dengan kebutuhan. Selain itu, kebanyakan guru (pendidik) dalam mayarakat modern cenderung mengajarkan sesuatu yang jauh dari realita yang ada kepada peserta didik. Anak- anak dalam masyarakat modern cenderung dibawah tekanan yang besar dari orang tua dan gurunya untuk menguasai pelajaran yang telah ditentukan dan dalam waktu yang telah ditentukkan sehingga berpotensi menimbulkan kelainan mental jika hasil yang akan dicapai terlalu berat dibandingkan dengan kemampuan anak (kibtiyah: 2013).

c)      Pendidikan Dalam Masyarakat Era Global
Secara etimologi, menurut kamus besar bahasa Indonesia, Era adalah kurun waktu dalam sejarah atau sering juga disebut zaman atau masa. Sedangkan global artinya adalah menyeluruh. Jika digabungkan, menurut terminologi, era globalisasi adalah sebuah perubahan sosial, berupa bertambahnya keterkaitan diantara masyarakat dan elemen-elemen yang terjadi akibat transkulturasi perkembangan teknologi dibidang transportasi dan komunikasi yang memfasilitasi pertukaran budaya dan ekonomi internasional (maesaroh: 2012).
Manusia global adalah manusia yang beriman dan bertakwa kepada tuhan yang Maha Esa (bermoral), mampu bersaing, menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi, serta memiliki jati diri. Salah satu wahana yang sangat strategis dalam meningkatkan kualitas sumber daya manusia yang unggul adalah melalui pendidikan (Sujarwo: 2013). Dari pernyataan tersebut dapat disimpulkan bahwa masyarakat pada era global dituntut untuk menguasai dan mempunyai kemampuan yang mumpuni dibidang ilmu pengetahuan dan teknologi (IPTEK).
Masyarakat pada era global biasa juga disebut dengan masyarakat di abad ke-21. Pada abad ini, masyarakat menjadi lebih kritis terhadap berbagai fenomena yang terjadi dalam kehidupan sehari-hari apalagi yang menyangkut masalah pendidikan. Ada beberapa tuntutan perbaikan dalam bidang pendidikan. Adapun tuntutannya adalah sebagai berikut; merespon kepada masyarakat yang berbasis pengetahuan, merespon terhadap masyarakat multibudaya dan masyarakat bersatu, merespon terhadap masyarakat madani yang matang.
Pendidikan pada era global, diperuntukkan bagi semua lapisan masyarakat tanpa kecuali, tanpa membedakan agama, suku bangsa, jenis kelamin, budaya, maupun sosial-ekonomi. Tugas para pendidik dalam hal ini adalah membantu mengkondisikan peserta didik pada sikap, perilaku atau kepribadian yang benar, agar mampu menjadi agents of modernization bagi dirinya sendiri, lingkungannya, masyarakat dan siapa saja yang dijumpai tanpa harus membedakan suku, agama, ras dan golongan. Pada era ini pula, pendidikan diarahkan pada upaya memanusiakan manusia yang dimaksutkan untuk membantu peserta didik agar menjadi manusia yang berbudaya tinggi dan bernilai tinggi (bermoral, berwatak, bertanggung jawab dan bersosialitas) (Sujarwo: 2006). Jadi dengan kata lain pendidikan budi pekerti sangatlah diperlukan dalam kehidupan peserta didik di era globalisasi ini. 

BOOK REPORT (Curriculum 21: essential education for a changing world)

BOOK REPORT



 Identitas Buku

Judul buku           :    Curriculum 21: essential education for a changing world
Pengarang            :    Heidi Hayes Jacobs
Penerbit                :    Alexandria: ASCD, 2009
Jumlah halaman   :    251 halaman


            Buku Curriculum 21 essential education for a changing world membahas mengenai  perlunya untuk merombak, memperbaharui dan memasukan sisi kehidupan kedalam kurikulum, serta mencocokkan isi kurikulum dengan waktu dimana kita hidup yang bertujuan untuk mempersiapkan peserta didik pada masa yang akan datang. Pada buku ini, menurut penulis (Jacobs) ada beberapa langkah yang harus ditempuh dalam memperbaharui kurikulum. Langkah pertama adalah mengembangkan pengganti penilaian (assessment). Kedua, menyesuaikan teknologi sesuai kebutuhan. Ketiga, mengganti penilaian yang lama dengan yang baru. Keempat, membagikan informasi mengenai penilaian yang telah diperbaharui kepada sekolah dan peserta didik. Langkah terakhir, memasukkan penilaian tersebut pada program sekolah. Selain itu, ada empat kunci struktur program yang mempengaruhi kurikulum, yaitu: jadwal (baik jangka pendek dan panjang), cara kita mengelompokkan peserta didik, susunan pegawai, penggunaan ruang (baik fisik dan virtual).
            Pada buku ini penulis (Jacobs) mengundang 10 pendidik untuk berbagi pengalaman kepada para pembaca. Setiap babnya, para pendidik akan membagikan pengalamannya masing-masing dalam dunia pendidikan. Adapun para pendidiknya yaitu; Jacobs, Stephen Wilmart, Vivien Steward, Tim Tyson, Frank W. Baker, David Niguidula, Jaime Cloud, Alan November, Bill Sheskey, Bena Kalick dan Artur Costa. Mereka semua memiliki satu tujuan yang sama yaitu untuk memberikan contoh tentang imajinasi, keberanian dan kepraktisan pembelajaran dari abad ke-21.
            Pada buku ini Stephen Wilmarth membahas mengenai sosial media teknologi yang mempengaruhi dan mengubah cara belajar mengajar. Peserta didik memperbaiki kemampuan berpikir kritis, mengekspresikan dan mengembangkan kemampuan pada literaturnya dengan berpartisipasi melalui blog, wiki, podcast, youtube, email, dan pesan singkat. Dia mengartikulasikan bagaimana teknologi mengubah sifat pedagogi. Dia menciptakan program yang sangat berhasil untuk menyatukan inovasi teknologi serta melakukan pertukaran pelajar internasional dan mengembangkan keterampilan kerja yang berorientasi pada masa depan.
            Vivi Stewart menyoroti tentang globalisasi kurikulum dan mengungkapkan bahwa perlu adanya pengkonsepan ulang tentang pendidikan global saat ini. Menurutnya pendidikan harus mempersiapkan siswa untuk dunia dimana peluang sukses itu memerlukan kemampuan untuk bersaing dan bekerja sama dalam skala global namun kenyataannya, banyak sekolah yang belum menekankan pengetahuan global dan ketrampilan. Ada lima tren global yang mengubah konteks untuk generasi mendatang. Tren ini berkaitan dengan ekonomi, ilmu pengetahuan dan teknologi, demografi (ilmu tentang perkembangan penduduk), keamanan dan kewarganegaraan dan yang terakhir adalah pendidikan.
            Tim Tyson adalah kepala sekolah menengah Mabry yang menginspirasi perbaikan  yang menggeser budaya di sekolahnya. Sekolah menengah Mabry terletak di Marietta, Giorgia. Sekolah ini memiliki tradisi unggul di bidang akademik dan seni pertunjukan. Bahkan grup bandnya menjadi salah satu yang terbaik di negaranya. Dalam keseharian di kelas dan proses belajar adanya persaingan ketat untuk menjadi yang terbaik. Namun menurut Tym, sekolah itu bukan hanya sekedar nilai, bukan hanya memikirkan bagaimana caranya mendapat nilai yang baik. Selain itu, Tim mempunyai ide untuk menggabungkan proses pembelajaran melalui teknologi, siswa dapat belajar tanpa harus berhadapan langsung dengan guru tapi bisa melalui video dan alat teknologi lainnya.
            Frank W. Baker adalah seorang jurnalis tv yang mengembangkan alat kurikulum untuk mengajar literasi dengan menggunakan media elektronik selama sepuluh tahun terakhir dan pendekatan yang dipakainya telah diuji dan solid. Itu semua didasari oleh banyaknya guru yang tidak mahir dalam menggunakan media yang efektif dalam pembelajaran. Masih sedikit yang tahu cara menggabungkan pembelajaran dengan media dan teknologi yang sesuai. Dan akhirnya pendidik sepakat bahwa cara mengajar anak harus berubah karena mereka sebagai guru tidak bisa mengabaikan internet, televisi, musik atau film sebagai media dan strategi pengajaran.
            David Niguidula adalah seorang perintis pengembangan portofolio digital siswa. David mensyaratkan peserta didik untuk mengembangkan portofolio digital jika ingin lulus dan karyanya itu mulai merevolusi penilaian. Portofolio digital adalah koleksi multimedia karya siswa yang menyimpan bukti keterampilan dan pengetahuan siswa. Ini merupakan cara yang ampuh untuk mengumpulkan pekerjaan siswa. Jika dilakukan dengan baik dan benar, portofolio digital menguraikan perjalanan belajar siswa dalam banyak cara. Pengumpulan portofolio ini dimaksutkan untuk menunjukkan bahwa seorang siswa sebagai pelajar individu.
            Jaimi Cloud mengabdikan karirnya untuk membangun kurikulum yang mendukung keberlanjutan dan pemahaman global. Jaimi sudah menghasilkan kurikulum yang kuat dan ramah untuk beradaptasi pada kelas dengan kondisi apapun. Dia percaya bahwa dengan meningkatkan kapasitas pengetahuan kita, dapat membuat perubahan menuju masa depan yang berkelanjutan.
            Alan November adalah seseorang yang mempunyai pandangan bahwa sekolah perlu adanya perubahan. Jaman modern seperti ini, anak sudah dekat dengan media teknologi tanpa dipelajari di sekolahnya, justru media teknologi kadang menjadi boomerang untuk guru di kelas karena sewaktu-waktu dapat mengancam keseriusan belajar. Dengan adanya media sosial di internet, kadang anak menjadi tidak serius belajar di kelas sehingga guru kesulitan untuk mengontrol kelas. Menurutnya, teknologi dapat mengganggu proses belajar mengajar jika tidak bekerja dengan baik. Sebaiknya kita mengubah budaya belajar mengajar sehingga dapat beradaptasi dengan kekuatan media teknologi.
            Bill sheskey adalah seorang pengembang strategi sederhana untuk membantu rekan-rekan guru dengan menggunakan alat digital yang dibantu oleh peserta didik. Dalam hal ini peserta didik seringkali lebih mengerti mengenai alat digital dibandingkan orang dewasa (guru). Peserta didik juga cenderung menginginkan perubahan dalam pembelajaran karena mereka lebih cepat menerima perubahan misalnya dalam hal teknologi. Strateginya adalah dengan menggabungkan proses pembelajaran dengan media elektronik seperti komputer, yang didalamnya bisa digunakan internet.
            Bagian terakhir pada buku ini Bena kellick dan  Arthur Costa mengemukakan pikirannya bahwa kita harus menanamkan pikiran pada diri kita sendiri bahwa kita adalah desainer kurikulum. Perserta didik pada masa yang akan datang sedang menunggu guru dan kurikulum baru yang bisa mengejar ketinggalan. Kurikulum yang dapat mengubah mental kita, apa yang diajarkan dan bagaimana cara mengajar. Perubahan tersebut membutuhkan keterbukaan, fleksibilitas, kesabaran dan keberanian. Tapi, mengubah kurikulum itu sama dengan mengubah pikiran kita. Mengubah kurikulum juga dapat membuat kita meninggalkan kebiasaan lama dengan kebiasaan baru. Itu semua dalam rangka mempersiapkan peserta didik untuk saat ini dan untuk masa yang akan dating.

KOMENTAR:
            Sebagai pendidik, tantangan kita adalah untuk mencocokan kebutuhan peserta didik dengan dunia yang berubah sangat cepat ini. Untuk memenuhi tantangan ini kita perlu untuk menjadi pembelajar yang strategis dengan memperluas perspektif dan memperbaharui pendekatan kita terhadap peserta didik.
            Sebagai pembaca yang juga seorang guru. Saya sangat setuju dengan beberapa ahli pendidikan pada buku ini karena mereka mempunyai tujuan untuk menyatukan teknologi dengan proses pembelajaran. Teknologi memang terbukti efektif untuk meningkatkan kemampuan peserta didik namun bukan berarti tanpa cacat. Seperti yang dikemukakan oleh Alan bahwa teknologi yang tidak digunakan dengan baik justru akan membuat kelas kacau.
            Menurut saya, teknologi mungkin sudah menjadi hal yang biasa di Negara maju, tapi jika ingin dibandingkan dengan Negara berkembang seperti Indonesia, akan menjadi sulit untuk direalisasikan. Tidak semua sekolah mempunyai media pembelajaran yang baik, bahkan tidak banyak siswa yang mempunyai bangunan sekolah yang memadai.

            Jadi, jika ingin mengembangkan kurikulum baru, kita harus mengubah pola pikir kita terlebih dahulu. Perlukah media elektronik? Apakah hanya ingin menaikkan derajat sekolah dan mengikuti standar negara maju belaka. Seperti kita ketahui, kita harus menyesuaikan kurikulum yang tepat dengan tempat dimana kita tinggal.

REFERENSI:
Jacobs, H. (2009). Curriculum 21: essential education for a changing world. Alexandria: ASCD

APRESIASI SASTRA ANAK SEKOLAH DASAR (Definisi, Manfaat dan Jenis-Jenis Sastra Anak)



1.      Definisi sastra anak
            Endraswara dalam Mursini (2013) menyatakan bahwa sastra anak pada dasarnya merupakan ”wajah sastra” yang fokus utamanya demi perkembangan anak. Didalamnya, mencerminkan liku-liku kehidupan yang dapat dipahami oleh anak, melukiskan perasaan anak, dan menggambarkan pemikiran-pemikiran anak. Lebih lanjut Endaswara mengemukakan, sastra anak hendaknya memiliki nilai-nilai tertentu yang dapat berpengaruh terhadap perkembangan kejiwaan anak. Yang membedakan sastra anak dengan sastra yang lain adalah muatannya. Sastra anak tentu saja perlu memuat rasa kesenangan, kegembiraan, kenikmatan, cita-cita, dan petualangan anak.
            Sastra anak-anak dalam Halik (2011) dijabarkan dalam beberapa pengertian dari beberapa ahli. Menurut Halik, sastra anak merupakan karya yang dari segi bahasa memiliki nilai estetis dan dari segi isi mengandung nilai-nilai yang dapat memperkaya pengalaman ruhani bagi kalangan anak-anak. Sedangkan menurut Pramuki dalam Halik (2011) sastra anak-anak adalah karya sastra (prosa, puisi, drama) yang isinya mengenai anak-anak; sesuai kehidupan, kesenangan, sifat-sifat, dan perkembangan anak-anak. Lain hal dengan Solchan dkk dalam Halik (2011) yang membagi pengertian sastra anak-anak atas dua bagian, yakni sebagai berikut.
1)      sastra anak-anak adalah sastra yang ditulis oleh pengarang yang usianya remaja atau dewasa yangisi dan bahasanya mencerminkan corak kehidupan dan kepribadian anak.
2)      sastra anak anak adalah sastra yang ditulis oleh pengarang yang usianya masih tergolong anak-anak yang isi dan bahasanya mencerminkan corak kehidupan dan kepribadian anak. Dengan demikian, sastra anak-anak dapat dikatakan bahwa suatu karya sastra yang bahasa dan isinya sesuai perkembangan usia dan kehidupan anak, baik ditulis oleh pengarang yang sudah dewasa, remaja atau oleh anak-anak itu sendiri. Karya sastra yang dimaksud bukan hanya yang berbentuk puisi dan prosa, melainkan juga bentuk drama.

2.      Manfaat sastra anak dalam berbagai perspektif, mencakup:
a)      Perspektif kognitif
Sastra anak yang ada kaitannya dengan pembentukan kecerdasan berpikir anak, membuat anak mampu menghadapi persoalan hidupnya dengan pikiran yang matang (Mursini, 2013).

b)      Perspektif imajinasi
Lewat sastra, anak berkesempatan untuk berfantasi mengarungi dunianya. Biarkan dan beri kesempatan anak-anak itu berkembang dan mengembangkan fantasinya (Saxby dan Winch dalam Mursini, 2013). Selain itu, sastra dapat membantu anak untuk mengembangkan imajinasi. Imajinasi yang dimaksud adalah daya pikir untuk membayangkan (dalam angan) atau menciptakan sesuatu (gambar, karangan,dan sejenisnya) berdasarkan kenyataan atau pengalaman sesorang (Huck dalam Halik, 2011).

c)      Perspektif sosial
Melalui karya sastra, misalnya cerita, anak dapat memperoleh, memperlajari, dan menyikapi berbagai persoalan hidup dan kehidupan, manusia dan kemanusiaan. Berbagai cerita menawarkan dan mendialogkan kehidupan dengan cara-cara yang menarik dan konkret. Melalui cerita juga, anak memperoleh berbagai informasi yang diperlukan dalam kehidupan.  Kehidupan yang menggambarkan dan menjelaskan bagaimana hubungan dengan orang tua, teman sepermainan, dengan saudara atau masyarakat dengan berbagai peran dan fungsinya (Mursini, 2013).

d)     Perspektif moral
Mampu dipergunakan sebagai media untuk menanam, memupuk, mengembangkan, dan bahkan melestarikan nilai-nilai yang diyakini baik dan berlaku pada lingkungan keluarga, masyrakat, dan bangsa. Karena adanya pewarisan nilai-nilai itulah eksistensi suatu masyarakat dan bangsa dapat dipertahankan. Selain itu, sastra anak mempunyai andil yang tidak kecil dalam usaha pembentukan dan perkembangan kepribadian anak. Jika dimanfaatkan secara benar dan dilakukan dengan strategi yang benar pula, sastra diyakini mampu berperan dalam pengembangan manusia yang seutuhnya dengan cara yang menyenangkan (Mursini, 2013).

e)      Perspektif psikomotor
Dengan adanya sastra, anak dapat meningkatkan keterampilan berbahasa. Kaitannya dengan apresiasi sastra yang dapat meningkatkan keterampilan berbahasa siswa, berbagai hasil penelitian menunjukkan bahwa pemanfaatan karya sastra dalam pembelajaran dapat meningkatkan keterampilan berbahasa.

f)       Perspektif kurikulum 2013
              Karya sastra memiliki peranan yang cukup besar dalam membentuk watak dan kepribadian seseorang. Dengan bekal apresiasi sastra yang memadai, para keluaran pendidikan diharapkan mampu bersaing pada era global dengan sikap arif, matang, dan dewasa (Tuhusetya, 2011).

3.      Bentuk atau macam-macam sastra untuk anak-anak
Sastra anak-anak (kompas, 2005) membagi sastra anak-anak ke dalam beberapa jenis, yakni: fiksi, nonfiksi, puisi, sastra tradisonal, dan komik. Pembagian tersebut sejalan dengan Framuki (2000) bahwa sastra anak-anak yang bersifat imajinatif dapat dibagi atas tiga macam yakni puisi, prosa, dan drama. Berdasarkan pendapat tersebut sastra anak-anak dapat dibagi atas tiga macam sebagai berikut
1)      Puisi
Puisi sebagai suatu karya sastra seni terdiri atas berbagai ragam. Waluyo dalam Halik (2011) mengklasifikasi puisi berdasarkan cara penyair mengungkapkan isi atau gagasan yang hendak disampaikan, terbagi atas: puisi naratif, puisi lirik, dan puisi deskriptif, yakni sebagai berikut.
·         Puisi Naratif
Puisi naratif adalah puisi isinya berupa cerita. Penyair menyampaikan gagasanya dalam bentuk puisi dengan cara naratif yang di dalamnya tergambar ada pelaku yang berkisah.
·         Puisi Lirik
Puisi Lirik adalah puisi yang mengungkapkan gagasan pribadinya dengan cara tidak bercerita. Puisi lirik dapat berupa pengungkapan pujaan terhadap seseorang.
·         Puisi Deskriptif
Puisi deskriptif adalah puisi penyair yang mengungkapkan gagasannya dengan cara melukiskan sesuatu untuk mengungkapkan kesan, peristiwa, pengalaman menarik yang pernah dialaminya.

2)      Prosa
Surana dalam Halik (2011) mengemukakan pengertian prosa sebagai  berikut. Bentuk karangan sastra dengan bahasa biasa, bukan puisi, terdiri atas kalimat-kalimat yang jelas pula runtutan pemikirannya, biasanya ditulis satu kalimat setelah yang lain, dalam kelompok-kelompok yang merupakan alinea-alinea. Jadi dapat dikatakan bahwa prosa fiksi anak-anak adalah karya sastra yang tidak dibuat atas ragkaian bait demi bait tetapi dibuat atas rangkaian paragraf demi paragraf dengan merangkaikan unsur-unsur seperti tempat, waktu, suasana, kejadian, alur pristiwa, pelaku berdasarkan tema cerita tertentu yang diperoleh secara imajinatif.

3)      Drama
Drama menurut Surana dalam Halik (2011) adalah karangan prosa atau puisi berupa dialog dan keterangan laku untuk dipertunjukkan di atas pentas. Seiring dengan pendapat dari Hermawan dalam Halik (2011) mengenai drama, yaitu drama merupakan cerita konflik manusia dalam bentuk dialog yang diproyeksikan pada pentas dengan menggunakan percakapan dan action di hadapan penonton.



DAFTAR PUSTAKA

Halik, A. 2011. Pengertian, Tingkatan, dan Manfaat Apresiasi Sastra Anak-Anak. Tersedia: http://pjjpgsd.dikti.go.id/mod/resource/view.php?id=26&subdir=/Mata%20Kuliah%20Awal/Kajian%20Bahasa%20Indonesia%20SD/BAC

Mursini. 2013. Perkembangan Kepribadian Anak-Anak Lewat Sastra. Tersedia: http://digilib.unimed.ac.id/public/unimed-article-23373-mursini

Tuhusetya, S. 2011. Pengajaran Sastra, Kurikulum, dan Kompetensi Guru Bahasa. Tersedia: http://sawali.info/2011/04/12/pengajaran-sastra-kurikulum-dan-kompetensi-guru-bahasa/