Tampilkan postingan dengan label pendidikan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label pendidikan. Tampilkan semua postingan

Minggu, 21 September 2014

BOOK REPORT (Introduction to Behavioral Research Methods) chapter 5

BOOK REPORT
(chapter 5)



1.1    Identitas Buku
Judul Buku      : Introduction to Behavioral Research Methods
Pengarang       : Mark R Leary
Penerbit           : Pearson
Tahun              : 2008

1.2    Latar Belakang
Setiap tahun federal antar forum keluarga dan anak mengeluarkan laporan yang menggambarkan hasil penelitian yang berhubungan dengan kejahatan, merokok, penggunaan narkoba, gizi, dan topik lainnya yang relevan dengan kesejahteraan anak-anak dan remaja di Amerika Serikat. Laporan terbaru menunjukkan bahwa banyak siswa SMA Amerika terlibat dalam perilaku yang mungkin memiliki konsekuensi serius bagi kesehatan mereka. Sebagai contoh, dalam survei nasional melaporkan bahwa 14% dari senior pada sekolah tinggi merokok setiap hari, 23% mengindikasikan bahwa mereka telah mabuk berat dalam dua minggu terakhir, dan 23% mengatakan bahwa mereka telah menggunakan obat-obatan terlarang dalam 30 hari sebelumnya. Persentase untuk remaja yang lebih muda, meskipun lebih rendah, juga menunjukkan tingkat tinggi perilaku berisiko: Data siswa kelas delapan menunjukkan bahwa 4% merokok secara teratur, 11% minum berat, dan 9% telah menggunakan obat-obatan terlarang pada bulan sebelumnya. Di sisi lain, studi juga menunjukkan jumlah orang muda yang menjadi korban kejahatan kekerasan (seperti perampokan, pemerkosaan, penyerangan, dan pembunuhan) telah menurun tajam dalam dekade terakhir.
Hasil penelitian di atas adalah hasil penelitian deskriptif. Tujuan dari penelitian deskriptif adalah untuk menggambarkan karakteristik atau perilaku dari populasi tertentu secara sistematis dan akurat. Biasanya, penelitian deskriptif tidak dirancang untuk menguji hipotesis melainkan dilakukan untuk memberikan informasi tentang karakteristik sosial, perilaku, ekonomi, atau psikologis fisik dari sekelompok orang. Kelompoknya mungkin sebesar penduduk dunia atau sekecil siswa di sekolah tertentu. Penelitian deskriptif dapat dilakukan untuk memperoleh informasi dasar tentang kelompok kepentingan atau untuk memberikan kepada instansi pemerintah dan kelompok-kelompok pembuatan kebijakan lain data spesifik tentang masalah sosial.
  

BAB II
PEMBAHASAN


          Penelitian deskriptif merupakan penelitian yang menggambarkan karakteristik atau perilaku dari populasi tertentu secara sistematis dan akurat. Diperkuat dengan pendapat Furchan dalam Basir (2011) bahwa Penelitian deskriptif cenderung menggambarkan suatu fenomena apa adanya dengan cara menelaah secara teratur-ketat, mengutamakan obyektivitas, dilakukan secara cermat, tidak adanya perlakuan yang diberikan atau dikendalikan, dan tidak adanya uji hipotesis. Menurut Leary, penelitian deskriptif tidak dirancang untuk menguji hipotesis tapi diciptakan untuk memberikan informasi tentang karakter fisik, sosial, perilaku, ekonomi, atau psikologi dari beberapa kelompok orang. Pada penelitian deskriptif mungkin dilakukan untuk memperoleh informasi tentang suatu kepentingan atau untuk memberikan data spesifik tentang masalah sosial kepada badan-badan pemerintah dan kelommpok pembuatan kebijakan lain.

2.1         MACAM-MACAM  PENELITIAN DESKRIPTIF
Menurut Masyhuri dan Zainuddin dalam buku Metodologi Penelitian (2008), terdapat berbagai macam-macam penelitian deskriptif, seperti survei, deskriptif, studi kasus, penelitian komparatif, analisis kerja dan aktivitas, dan studi waktu dan gerakan. Namun, Leary dalam bukunya hanya mengungkapkan tiga macam jenis penelitian pada penelitian deskriptif, yaitu survei, penelitian perkembangan, dan penelitian epidemiologi.

1.      Penelitian survey
Penelitian survei merupakan jenis yang paling umum dari penelitian deskriptif. Penelitian ini digunakan dalam hampir setiap bidang ilmu sosial dan perilaku. Menurut Masyhuri dan Zainuddin (2008) banyak sekali masalah dapat diteliti dengan menggunakan metode survey, termasuk bidang produksi, pemasaran, tenaga kerja, komunikasi usahatani, pendidikan dan sebagainya. Tujuan penelitian survei untuk memberikan penjelasan mengenai sikap, pikiran dan perasaan orang/masyarakat. Dalam bidang psikologi, psikolog menggunakan survei untuk menyelidiki tentang sikap, gaya hidup, perilaku dan masalah dalam masyarakat. Sosiolog menggunakan survei untuk belajar prefensi politik dan sistem keluarga. Peneliti politik menggunakan survei untuk mempelajari sikap politik dan untuk memprediksi hasil pemilihan. Peneliti pemerintah melakukan suvei untuk mengetahui masalah sosial. Pembuat iklan melakukan survei untuk mengetahui sikap pembeli dan pola pembelian. Contoh dari penelitian survey dalam bidang pendidikan misalnya penelitian terhadap respon mahasiswa jurusan Pendidikan Dasar terhadap mata kuliah statistika.  
Penelitian survei menggunakan kuesioner dan wawancara untuk mengumpulkan informasi tentang sikap masyarakat, kepercayaan, perasaan, perilaku, dan gaya hidup. Survei banyak dilakukan dengan cara bertemu langsung, seperti ketika seseorang direkrut untuk memberikan laporan pada pusat survei atau pejalan kaki yang diberhentikan di jalan untuk menjawab pertanyaan, tetapi beberapa beberapa diantaranya dilakukan melalui telepon, melalui pesan elektronik (email) atau pada web. Dalam penelitian survei terdapat beberapa disain penelitian, yaitu; cross sectional, Successive independent samples survei design, Longitudinal atau panel survei design, dan Internet survei.

2.      Penelitian demografis (perkembangan)
Penelitian perkembangan berkaitan dengan pola yang menggambarkan peristiwa dan pengalaman dalam kehidupan seperti kelahiran, menikah, bercerai, pekerjaan,  migrasi, dan kematian. Penelitian ini umumnya di lakukan dalam periode longitudinal dengan waktu tertentu, bertujuan guna menemukan perkembangan demensi yang terjadi pada seorang respoden. Hal yang sering menjadi perhatian peneliti ini, misalnya: intelektual, fisik, emosi, reaksi terhadapan tertentu, dan perkembangan sosial anak. Studi perkembangan ini biasa dilakukan baik secara cross-sectional atau logiotudinal.
Jika penelitian dilakukan dengan model cross-sectional, peneliti pada waktu yang sama dan disimultan menggunakan berbagi tingkatan variabel untuk diselidiki. Data yang diperoleh dari masing-masing tingkat dapat dideskripsi dan kemudian di komparasi atau dicari tingkat asosiasinya. Pada model ini terdapat beberapa keuntungan, yaitu dapat dilakukan dengan hanya sekali pengamatan, Lebih murah di banding dengan penelitian lainnya, serta berguna untuk informasi perencanaan.
Dalam penelitian perkembangan model longitudinal, peneliti menggunakan responden sebagai sampel tertentu, misalnya: satu kelas satu sekolah, kemudian dicermati secara intensif perkembangannya secara terus menerus atau kontinu dalam jangka waktu tertentu seperti tiga bulan, enam bulan, satu tahun. Semua fenomena yang muncul didokumentasi untuk digunakan sebagai informasi dalam menganalisis guna mencapai hasil penelitian (Basir: 2011).

3.      Penelitian epidemiologi
Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, Epidemiologi merupakan ilmu tentang penyebaran penyakit menular pada manusia dan faktor-faktor yang dapat mempengaruhi penyebarannya. Sama halnya seperti yang dikemukakan Leary bahwa penelitian epidemiologi digunakan untuk mempelajari terhadinya suatu penyakit dalam kelompok orang yang berbeda. Penelitian epidemiologi umumnya dilakukan oleh peneliti medis yang mempelajari pola dari kesehatan dan penyakit. Psikolog juga tertarik pada epidemiologi karena 2 alasan. Pertama, banyak penyakit dan cedera disebabkan oleh perilaku dan gaya hidup seseorang. Kedua, beberapa penelitian epidemiologi menggambarkan prevalensi dan insiden gangguan psikologis

2.2         SAMPLING
          Sampling adalah proses dimana peneliti memilih sampel dari partisipan untuk mempelajari minat populasi. Dalam penelitian, bermutu atau tidak hasil penelitian akan ditentukan juga oleh penarikan sampel. Sebab apabila sampel yang dipilih salah, maka penelitian dikatakan gagal (Masyhuri dan Zainuddin: 2008). Agar tidak gagal, peneliti harus pandai-pandai memilih metode penarikan sampel setepat mungkin dan dapat memberikan hasil sebaik mungkin. Leary mengemukakan dua sampel yang fokus pada cara-cara dimana peneliti memilih sampel peserta untuk dipelajari.

1.      Probability sample
               Probability sample merupakan sampel yang mungkin didapatkan dalam beberapa cara, yaitu Pengambilan acak sederhana (Simple random sampling), Pengambilan acak berdasarkan lapisan (Stratified random sampling), dan Pengambilan acak berdasar area (Cluster sampling).
               Pengambilan acak sederhana (Simple random sampling) merupakan sebuah metode untuk memilih anggota sampel yang dinotasikan dengan ‘n’ dari anggota populasi yang dinotasikan dengan ‘N’, sehingga anggota populasi mempunyai kesempatan yang sama untuk menjadi anggota sampel, tidak ada deskriminasi terhadap anggota populasi. Menurut Leary, untuk memperoleh simple random sampling, peneliti harus mempunyai kerangka sampel, populasi haruslah homogen, dan populasi tidak terlalu tersebar secara geografis agar memudahkan melakukan penelitian. Kerangka sampel adalah daftar dari populasi dimana sampel akan ditarik kemudian diteliti. Pengambilan sampel harus dengan cara undian sehingga setiap unit mempunyai peluang yang sama. Misalnya setiap unit penelitian dalam daftar kerangka sampling ditulis pada secarik kertas. Kertas-kertas tersebut kemudian dimasukkan kedalam kotak, kemudian dikocok dan sejumlah gulungan kertas tersebut diambil sesuai dengan sejumlah sampel yang direncanakan. Nomor-nomor yang terambil menjadi unit elementer yang terpilih menjadi sampel.
               Pengambilan acak berdasarkan lapisan (Stratified random sampling) merupakan variasi dari sample random sampling. Dalam praktek sering dijumpai populasi yang tidak homogen. Makin heterogen populasi, makin besar perbedaan sifat antara lapisan-lapisan tersebut. Maka jalan satu-satunya yang harus ditempuh adalah melakukan pembagian dalam lapisan-lapisan atau strata yang beragam, dan setiap lapisan dapat diambil sampel secara acak. Dalam menggunakan metode ini berarti semua lapisan (sub populasi) dapat diwakili. Misalnya stratifikasi pada pendapatan pedagang yang kemudian dstatifikasi atas dasar skala usaha, menjadi pedagang usaha kecil, menengah dan usaha besar. Pengambilan sampel sampel ini juga dipakai dalam penelitian misalnya prestasi anak pada dua masyarakat yang berbeda dengan tingkatan sosial ekonomi, keadaan keluarga, dan lingkungan yang berbeda.
               Lain hal dengan Pengambilan acak berdasar area (Cluster sampling), cluster sampling merupakan suatu metode pemilihan suatu sampel dari kelompok yang berbeda (cluster), dari unit-unit yang lebih kecil yang disebut elemen-elemen. Cluster sampling dapat dipilih lewat pengambilan contoh acak atau sistematik dengan suatu awal random. Sama dengan strata pada stratified random sampling, cluster merupakan sub populasi yang secara khas saling mengisi yang bersama-sama meliputi seluruh populasi. Teknik sampling ini paling banyak digunakan, karena cluster sampling mempunyai 2 keuntungan. Pertama, tidak membutuhkan kerangka sampel untuk memulai sampling, hanya daftar kelompok. Kedua, kelompok menampilkan grup yang berdekatan secara geografis. (misalnya murid dalam satu wilayah atau satu sekolah). Sedikit waktu dan usaha yang diperlukan untuk menghubungi para partisipan.

2.      Nonprobability sample
       Sama seperti probability sample, nonprobability sample pun memiliki beberapa sampel, yaitu Convenience sampling (sampel kenyamanan), Quota sampling (sampel kuota), dan Purposive sampling (sampel secara sengaja).
       Pada Convenience sampling (sampel kenyamanan), peneliti menggunakan siapapun yang siap dan tersedia untuk menjadi partisipan. Kita dapat mengambil partisipan dimanapun berada. Selain itu, kita dapat memberhentikan 150 orang yang sedang berbelanja yang kita temui di jalan pusat kota, orang yang sedang menunggu dibandara atau terminal bus, menghubungi pasien dirumah sakit, atau dengan siswa psikologi.
       Quota sampling (sampel kuota) merupakan sampel kenyamanan yang penelitinya mengambil langkah untuk memastikan bahwa beberapa jenis peserta diperoleh dalam proporsi tertentu. Sedangkan, Pada sample purposive (sampel secara sengaja), teknik pengambilan sampelnya dilakukan secara sengaja, peneliti menggunakan penilaian mereka untuk memutuskan partisipan mana yang akan dimasukan kedalam sampel. Peneliti memilih responden yang perwakilan dari populasi. Jadi, sampel diambil tidak secara acak, tapi ditentukkan sendiri oleh peneliti. Namun, pada sampel ini pula penilaian peneliti tidak bisa diandalkan sebagai sesuatu yang dipercaya untuk memilih sampel.

2.4         MENDESKRIPSIKAN DAN MENYAJIKAN DATA
Deskripsi adalah bukanlah tujuan utamanya, peneliti harus selalu memutuskan bagaimana untuk meringkas dan mendeskripsikan datanya dengan penuh makna dan berguna. Namun para peneliti haruslah memperhatikan kriteria desripsi yang baik untuk menjadi deskripsi yang baik, deskripsi dari data harus mencakup 3 kriteria; akurat, ringkas namun padat dan dapat dimengerti. Pertama, data harus diringkas dan dijelaskan secara akurat. Peneliti harus selalu menghadirkan data mereka dengan cara yang akurat mewakili data. Contohnya, statistik dapat meringkas dan menggambarkan data lebih akurat. Kedua, data juga harus diringkas dalam bentuk padat dan bermakna. Peneliti harus selektif pada data yang mereka pilih untuk disajikan dan data yang disajikan adalah data yang paling jelas dan menggambarkan hasil. Terakhir, penjelasan dari data haruslah mudah untuk dimengerti. Terlalu banyak menyajikan tabel, grafik, atau data statistik dapat mengaburkan hasil dan akan membuat bingung. Maka, peneliti hendaknya memilih data yang jelas serta cara yang mudah untuk menjelaskan data. Dalam analisis dekriptif pada umumnya adalah termasuk mengukur tendensi sentral,mengukur variabilitas, mengukur hubungan, mengukur perbandingan dan mengukur posisi suatu skor (Bunaiya: 2012)
Untuk mendeskripsikan data, hal pertama yang harus dilakukan adalah membuat tabel distribusi frekuensi. Distribusi frekuensi merupakan salah satu bentuk penyajian data. Tabel distribusi frekuensi dibuat agar data yang telah dikumpulkan dalam jumlah yang sangat banyak dapat disajikan dalam bentuk yang jelas dan baik. Dengan kata lain, tabel distribusi frekuensi  dibuat untuk menyederhanakan bentuk dan jumlah data sehingga ketika disajikan kepada para pembaca dapat dengan mudah dipahami atau dinilai. Distribusi frekuensi dibagi menjadi 2 yaitu, Distribusi frekuensi sederhana dan Distribusi frekuensi berkelompok.
Distribusi frekuensi sederhana merupakan salah satu jenis tabel statistik yang di dalmnya disajikan frekuensi dari data angka, dimana angka yang ada tidak dikelompokkan. sedangkan distribusi frekuensi berkelompok merupakan salah satu jenis tabel statistik yang di dalamnya disajikan pencaran frekuensi dari data angka, dimana angka-angka tersebut dikelompokkan (Bunaiya: 2012).
Tindakan selanjutnya setelah membuat tabel distribusi frekuensi adalah mengitung tendensi sentral. Tindakan ini dalam rangka menyampaikan informasi tentang distribusi dengan menyediakan informasi tentang rata-rata atau skor yang paling sering muncul. Ada tiga ukuran tendensi sentral yang sering digunakan, yang masing-masing memberitahu kita sesuatu yang berbeda tentang data, yaitu Mean, Median dan Modus. Seperti yang sudah dijelaskan pada bab sebelumnya, mean disini berarti nilai rata-rata. Median medipakan nilai tengah. Dan modus adalah nilai yang paling sering muncul. Setelah menghitung tendensi sentral, yang dapat membantu kita mengetahui rata-rata atau nilai yang paling sering muncul, selanjutnya kita akan menghitung variabilitas. Karena dalam hal ini peneliti secara khusus meneliti variabilitas perilaku, peneliti harus menggunakan statistik yang dapat menunjukkan jumlah variabilitas dalam data. Dalam menghitung variabilitas termasuk didalamnya menghitung  Standar Deviasi, Varian, Quartil, Desil, Persentil. Menurut Leary, standar deviasi sangatlah berguna. Dengan mengetahui rata-rata dan standar deviasi dari data, kita juga dapat memberitahu bahwa tidak hanya data tersebut bervariasi tetapi juga mereka didistribusikan di berbagai rentang skor. Setelah melalui tahapan yang sebelumnya sudah dijelaskan, tahapan selanjutnya adalah menghitung nilai Z (Z score). Menghitung nilai Z adalah untuk membandingkan posisi seseorang dengan orang lain dalam kelompok masing-masing.
   

BAB III
PENUTUP


3.1       KESIMPULAN
Penelitian deskriptif dirancang untuk menggambarkan karakteristik atau perilaku dari populasi tertentu dengan cara sistematis dan akurat. Ada beberapa macam penelitian dalam peneliatan deskriptif yaitu Penelitian survey, demografis, dan epidemiologi.
Dalam sebuah penelitian, terdapat proses sampling. Dalam proses tersebut ada 2 teknik pengambilan sampel yang bisa dipilih pada penelitian deskriptif, sampel probabilitas dan sampel nonprobabilitas. Pada sampel probabilitas, peneliti dapat menentukan probabilitas bahwa setiap individu dalam populasi akan dimasukkan dalam sampel . Dengan sampel probabilitas, kesalahan estimasi dapat diperkirakan dan memungkinkan para peneliti untuk mengetahui seberapa akurat data sampel mereka menggambarkan populasi. Sedangkan pada sampel nonprobability, seperti sampel kenyamanan, kuota, dan sampel secara sengaja, peneliti tidak memiliki cara untuk menentukan sejauh mana mereka mewakili populasi. Meski begitu, sampel nonprobability digunakan jauh lebih sering dalam penelitian perilaku dari sampel probabilitas

Para peneliti mencoba untuk menggambarkan data mereka dengan cara yang akurat, ringkas, dan mudah dipahami. Maka dari itu, sebuah deskripsi statistik lengkap satu set data yang biasanya melibatkan langkah-langkah dari kedua tendensi sentral (mean, median, modus) dan variabilitas (range, varians, standar deviasi).
  



DAFTAR PUSTAKA


Amelia, W. 2010. Epidemiologi Dan Peranannya Didalam Pemecahan Masalah Kesehatan. (Makalah, Universitas Diponegoro, 2010) Retrieved from http://windaamelia.wordp ress.com /2010/10/15/tugas-makalah-epidemiologi/
Basir, A. 2011. Metode Penelitian Deskriptif. (Makalah, Institut Islam Nahdlatul Ulama Jepara, 2011) Retrieved from http://coretanpenapribadi.blogspot.com/2013/08/makala h-metode-penelitian-deskriptif.html
Bunaiya, A. 2012. Distribusi Frekuensi (Pengertian, Jenis Tabel, Macam-macam Grafik dan Cara Membuat Tabel). Tersedia: http://bunayhartop.blogspot.com/2012/03/distribusi-frekuensi-pengertian-jenis.html.

Leary, M. R. (2008). Indtoduction to Behavioral Research Methods. USA: Pearson.

Masyhuri., Zainuddin. 2008. Metodologi Penelitian. Bandung: PT. Refika Aditama.





Pendidikan Dalam Berbagai Latar Peristiwa

Pendidikan Dalam Berbagai Latar Peristiwa
         Darsono (2008:51) dalam Asriani (2011) mengatakan bahwa Pendidikan merupakan kebutuhan dasar manusia guna memenuhi kebutuhan rohani dan daya nalarnya yang setara dengan kebutuhan-kebutuhan pokok lainnya guna memenuhi kebutuhan fisik dan mental sosialnya. Kebutuhan rohani dan kebutuhan fisik merupakan kebutuhan dasar manusia yang harus terpenuhi, sehingga sulit dan mahalnya harga pendidikan harus dipenuhi oleh Negara dalam mencukupi kebutuhan dasar warganegaranya. Diperkuat dengan pasal 31 Ayat 1 dan 2. Ayat (1) berbunyi “Tiap-tiap warga negara berhak mendapatkan pengajaran“ dan Ayat (2) “pemerintah mengusahakan dan menyelenggarakan suatu sistem pengajaran nasional yang diatur dalam undang-undang” Oleh karena itu, bila sekarang ini masih ada masyarakat yang tidak dapat melanjutkan pendidikannya terutama wajib belajar sembilan tahun, seharusnya negara selaku pemegang otoritas memfasilitasi kemudahan warganegaranya untuk memperoleh pendidikan.
Pendidikan menjadi kunci utama keberhasilan suatu bangsa, untuk menghantarkan kesejahteraan dan kemakmuran masyarakatnya (Dario: 2013). Bangsa yang baik adalah bangsa yang memperhatikan serta membangun sistem pendidikan yang baik pula. Jika suatu Negara belum mampu mengembangkan sistem pendidikan yang baik maka Negara tersebut belum mampu mencapai kesejahteraan yang terjadi pada Negara cerdas, makmur serta sejahtera, seperti; Jepang, Korea Selatan, Inggris, Jerman, Amerika Serikat, Kanada, Australia dan sebagainya. Menurut Ballantine dalam kibtiyah (2013), menyatakan beberapa fungsi pendidikan dalam masyarakat, yaitu; fungsi sosialisasi, seleksi, latihan dan alokasi, inovasi dan perubahan sosial serta fungsi pengembangan pribadi dan sosial.
           Pendidikan sangatlah penting demi meningkatkan kualitas hidup masyarakat. Masyarakat yang hidup dipedalaman tentunya berbeda kualitas pendidikannya jika dibandingkan dengan masyarakat yang hidup diperkotaan yang sarat dengan sarana dan prasarana pendidikan yang memadai. Masyarakat pedalaman bisa juga disebut masyarakat tradisional karena cenderung hidup jauh dari pusat kota dan sering kali mengalami kendala, apalagi pada bidang pendidikan seperti sarana dan prasarana yang minim serta terbatasnya tenaga pendidik karena susahnya transportasi untuk menjangkau lokasi. Pada beberapa daerah, minat bersekolah sangatlah kurang karena dinilai tidak menghasilkan uang. Tidak mengherankan, pada masyarakat tradisional yang lebih mengedepankan adat serta budaya leluhur seperti yang terjadi pada masyarakat pedalaman, anak usia sekolah lebih diajarkan untuk berburu atau membantu orang tua diladang. Kondisi seperti ini sangatlah menghawatirkan dan harus menjadi perhatian serius sehingga bisa mendapatkan solusi dalam pemecahan masalah diatas. Untuk memahami serta menindak lanjuti permasalahan pendidikan dalam berbagai latar peristiwa, kita haruslah memahami karakteristik serta perbedaan pendidikan masa lalu yang telah dilakukan oleh generasi sebelumnya serta yang kini sedang berlangsung. Maka, untuk lebih jelas kita haruslah membedakan pendidikan dalam berbagai tipe masyarakat, seperti pada masyarakat tradisional, modern dan era global sebagai berikut.

a)      Pendidikan Dalam Masyarakat Tradisional
Masyarakat tradisional sering diartikan sebagai masyarakat yang kehidupannya masih banyak dikuasai oleh adat istiadat lama. Didalam kehidupan sehari-harinya, masyarakat tradisional sering melakukan cara-cara atau kebiasaan-kebiasaan lama yang masih diwarisi dari nenek moyangnya sehingga kehidupan mereka belum terlalu dipengaruhi oleh perubahan-perubahan yang berasal dari luar lingkungan sosialnya.
Di Indonesia, masyarakat pada zaman dahulu atau masyarakat yang tinggal didaerah terpencil pada saat ini juga sering disebut masyarakat tradisional karena pada zaman itu mereka masih memegang teguh adat istiadat leluhur. Selain itu, masyarakat tradisional biasanya berada di pedalaman sehingga kurang mengalami perubahan atau pengaruh dari kehidupan kota. Pengetahuan yang mereka miliki kurang terspesialisasi dan sedikit keterampilan sehingga membuat anak-anak memperoleh warisan budaya dengan mengamati dan meniru orang dewasa dalam berbagai kegiatan seperti upacara, berburu, pertanian dan panen. Kebudayaan masyarakat tradisional merupakan hasil adaptasi terhadap lingkungan alam dan sosial sekitarnya tanpa menerima pengaruh luar. Jadi, kebudayaan masyarakat tradisional tidak mengalami perubahan mendasar. Karena peranan adat-istiadat sangat kuat menguasai kehidupan mereka.  
Undang-undang no 20 tahun 2003 tentang pendidikan Nasional pasal 5 ayat 1 dan 3 yang isinya ayat (1) “setiap warga negara mempunyai hak yang sama untuk memperoleh pendididkan yang bermutu”. Ayat (3) “warga negara daerah terpencil atau terbelakang serta masyarakat adat yang terpencil berhak memperoleh pendidikan layanan khusus”. Pemerintah wajib memenuhi hak tersebut seperti yang dicantumkan dalam pasal 11 ayat 1 yaitu pemerintah dan pemerintah daerah wajib memberikan layanan dan kemudahan, serta menjamin terselenggaranya pendidikan yang bermutu bagi setiap warga negaranya. Jadi, walaupun di Indonesia masih terdapat masyarakat pedalaman yang sulit untuk dijangkau tetapi pemerintah mempunyai kewajiban untuk tetap memberikan pelayanan pendidikan yang sama seperti masyarakat kota terhadap masyarakat pedalaman tanpa pengecualian.
Sejarah pendidikan masyarakat tradisional di Indonesia dimulai pada masa kerajaan. Pada umumnya, pendidikan diselenggarakan untuk mengajar anak-anak keluarga bangsawan, agar mereka siap meneruskan tugas dan tanggung jawab sebagai penerus tahta kerajaan. Pendidikan hanya bersifat terbatas dan elitis, itu berarti pendidikan diperuntukkan untuk kalangan kerajaan serta bangsawan. Sedangkan, pada zaman kolonial belanda, banyak hal yang menjadi penyebab ketertinggalan bidang pendidikan. Bangsa ini hanya dimanfaatkan sumber daya alamnya yang melimpah, sedangkan dalam sumber daya manusianya dibodohkan dengan berbagai cara, sehingga bangsa ini tidak mengalami masa perkembangan yang menakjubkan pada bidang pengetahuan, pendidikan maupun teknologi. Pendidikan hanya terbatas untuk orang-orang yang memiliki golongan ekonomi atas, terutama pegawai pemerintahan Belanda, kaum bangsawan (priyayi) dan diutamakan dari kaum laki-laki. Namun pada zaman Raden Ajeng Kartini muncul, ada dobrakan adat tradisi yang kuno. Ia berkeinginan bahwa pendidikan harus diberikan kepada setiap orang tanpa memandang jenis kelamin, suku bangsa, agama, maupun status sosial ekonomi.
Ada beberapa ciri utama pada pendidikan tradisional, yaitu; anak-anak biasanya dikirim ke sekolah di dalam geografis tertentu kemudian mereka dimasukkan ke dalam kelas yang kemudian dibedakan berdasarkan umur. Prinsip sekolah yang otoritarian menyebabkan anak harus menyesuaikan diri dengan tolak ukur perilaku yang ada. Guru memikul tanggung jawab pengajaran. Pembelajaran berpegang pada kurikulum yang sudah ditetapkan. Bahan ajar yang paling umum tertera dalam kurikulum adalah buku-buku teks. Di dalam kelas, guru menjadi satu-satunya pelaku pendidikan. Guru berbicara dan murid hanya menyimak tanpa ikut berperan aktif. Tatanan bangku berurut dan masih diberlakukannya hukuman fisik bagi murid yang tidak taat (kibtiyah: 2013).

b)     Pendidikan Dalam Masyarakat Modern
              Masyarakat modern adalah masyarakat yang menempatkan mesin dan teknologi pada posisi yang sangat penting dalam kehidupannya sehingga mempengaruhi ritme kehidupan dan norma-norma (kibtiyah: 2013). Masyarakat modern merupakan masyarakat yang sebagian besar warganya mempunyai orientasi nilai budaya yang terarah ke kehidupan dalam peradaban dunia masa kini. Masyarakat modern relatif bebas dari kekuasaan adat-istiadat lama. Karena mengalami perubahan dalam perkembangan zaman dewasa ini. Berlawanan dengan masyarakat tradisional, perubahan-perubahan itu terjadi sebagai akibat masuknya pengaruh kebudayaan dari luar yang membawa kemajuan terutama dalam bidang ilmu pengetahuan dan teknologi. Menurut Parson dalam Pambudi (2011), masyarakat modern bisa dilihat dari ciri-ciri berikut ini; masyarakat modern cenderung bersikap netral bahkan menuju sikap tidak memperhatikan atau tidak peduli dan juga lebih mementingkan diri sendiri. Masyarakat modern pula suka mengejar prestasi, serta cenderung berterus terang dalam mengungkapkan segala sesuatu.
Dalam mencapai kemajuan itu masyarakat modern berusaha agar mereka mempunyai pendidikan yang cukup tinggi dan berusaha agar mereka selalu mengikuti perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Kemajuan di bidang ilmu pengetahuan dan teknologi seimbang dengan kemajuan di bidang lainnya seperti ekonomi, politik, hukum, dan sebagainya. Bagi negara-negara sedang berkembang seperti halnya Indonesia. Pada umumnya masyarakat modern ini disebut juga masyarakat perkotaan atau masyarakat kota. Pengertian kota secara sosiologi terletak pada sifat dan ciri kehidupannya dan bukan ditentukan oleh menetapnya sejumlah penduduk di suatu wilayah perkotaan. Dari pengertian di atas, dapat diartikan bahwa tidak semua warga masyarakat kota dapat disebut masyarakat modern, sebab banyak orang kota yang tidak mempunyai orientasi nilai budaya yang terarah ke kehidupan peradaban dunia masa kini, misalnya gelandangan atau orang yang tidak jelas pekerjaan dan tempat tinggal.
Dalam masyarakat modern, pendidikan memegang peranan sangat penting dalam hal meningkatkan kecerdasan dan keterampilan. Pendidikan pada masyarakat modern umumnya diarahkan untuk mempersiapkan generasi yang mampu menghadapi tantangan. Pada zaman ini, teknologi informasi sudah mulai memegang peran penting untuk dikembangkan dan dikuasai. Dengan pengetahuan yang cukup, masyarakat akan mempunyai pandangan yang cukup luas untuk mampu mengantisipasi kehidupan masa mendatang dan melakukan perbaikan kehidupan dengan memperkenalkan norma sosial yang baru, yang dapat menjawab tantangan masa mendatang. Jadi pengetahuanlah yang menjadi modal utama bagi masyarakat modern untuk tetap bertahan dalam situasi dan kondisi peradaban modern.
Dalam rangka memenuhi kebutuhan mereka untuk memperoleh pengetahuan, mereka menyediakan fasilitas pendidikan formal mulai dari tingkat yang rendah hingga yang tinggi disamping pendidikan keterampilan khusus lainnya. Kelangsungan pendidikan ini diatur oleh pranata sosial baik pendidikan yang diselenggarakan pemerintah maupun oleh swasta. Karena peranan pendidikan ini sangat vital dalam menentukan kehidupan masa mendatang, maka penyelenggaraannya sangat terpelihara dan mendapat dukungan masyarakat. Warga masyarakat modern umumnya menikmati pendidikan sekolah mulai dari tingkat dasar, menengah maupun tinggi. Peranan pendidikan keluarga tetap terpelihara dengan baik khususnya dalam membentuk kepribadian seseorang sedangkan pengembangan pengetahuan dan keterampilannya, peranan pendidikan sekolahlah yang makin berperan.
Pendidikan pada masyarakat modern ini bertolak belakang dengan pendidikan tradisional. Pada pendidikan modern, guru bertindak sebagai fasilitator dan peserta didik mengambil dalam proses pembelajaran sehingga sehingga peserta didik dituntun untuk lebih aktif di kelas. Proses pembelajaran tidak hanya menggunakan buku teks, melainkan memanfaatkan media pembelajaran yang sekarang sudah berkembang pesat. Proses pembelajaran pun tidak terbatas di kelas saja melainkan bisa dilakukan di luar kelas sesuai dengan kebutuhan. Selain itu, kebanyakan guru (pendidik) dalam mayarakat modern cenderung mengajarkan sesuatu yang jauh dari realita yang ada kepada peserta didik. Anak- anak dalam masyarakat modern cenderung dibawah tekanan yang besar dari orang tua dan gurunya untuk menguasai pelajaran yang telah ditentukan dan dalam waktu yang telah ditentukkan sehingga berpotensi menimbulkan kelainan mental jika hasil yang akan dicapai terlalu berat dibandingkan dengan kemampuan anak (kibtiyah: 2013).

c)      Pendidikan Dalam Masyarakat Era Global
Secara etimologi, menurut kamus besar bahasa Indonesia, Era adalah kurun waktu dalam sejarah atau sering juga disebut zaman atau masa. Sedangkan global artinya adalah menyeluruh. Jika digabungkan, menurut terminologi, era globalisasi adalah sebuah perubahan sosial, berupa bertambahnya keterkaitan diantara masyarakat dan elemen-elemen yang terjadi akibat transkulturasi perkembangan teknologi dibidang transportasi dan komunikasi yang memfasilitasi pertukaran budaya dan ekonomi internasional (maesaroh: 2012).
Manusia global adalah manusia yang beriman dan bertakwa kepada tuhan yang Maha Esa (bermoral), mampu bersaing, menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi, serta memiliki jati diri. Salah satu wahana yang sangat strategis dalam meningkatkan kualitas sumber daya manusia yang unggul adalah melalui pendidikan (Sujarwo: 2013). Dari pernyataan tersebut dapat disimpulkan bahwa masyarakat pada era global dituntut untuk menguasai dan mempunyai kemampuan yang mumpuni dibidang ilmu pengetahuan dan teknologi (IPTEK).
Masyarakat pada era global biasa juga disebut dengan masyarakat di abad ke-21. Pada abad ini, masyarakat menjadi lebih kritis terhadap berbagai fenomena yang terjadi dalam kehidupan sehari-hari apalagi yang menyangkut masalah pendidikan. Ada beberapa tuntutan perbaikan dalam bidang pendidikan. Adapun tuntutannya adalah sebagai berikut; merespon kepada masyarakat yang berbasis pengetahuan, merespon terhadap masyarakat multibudaya dan masyarakat bersatu, merespon terhadap masyarakat madani yang matang.
Pendidikan pada era global, diperuntukkan bagi semua lapisan masyarakat tanpa kecuali, tanpa membedakan agama, suku bangsa, jenis kelamin, budaya, maupun sosial-ekonomi. Tugas para pendidik dalam hal ini adalah membantu mengkondisikan peserta didik pada sikap, perilaku atau kepribadian yang benar, agar mampu menjadi agents of modernization bagi dirinya sendiri, lingkungannya, masyarakat dan siapa saja yang dijumpai tanpa harus membedakan suku, agama, ras dan golongan. Pada era ini pula, pendidikan diarahkan pada upaya memanusiakan manusia yang dimaksutkan untuk membantu peserta didik agar menjadi manusia yang berbudaya tinggi dan bernilai tinggi (bermoral, berwatak, bertanggung jawab dan bersosialitas) (Sujarwo: 2006). Jadi dengan kata lain pendidikan budi pekerti sangatlah diperlukan dalam kehidupan peserta didik di era globalisasi ini.